|
( Madiun - ) Dalam rentang pelaksanaan program DIFAA selama 2 tahun di Lokalisasi Kedung Banteng ( LKB ) – Ponorogo telah membawa sedikit perubahan bagi warga LKB. Perubahan ini tentu saja bukan hanya semata peran DIFAA tetapi juga peran aktif masyarakat LKB sendiri. Perubahan itu dapat diketahui dengan membandingkan kondisi sebelum adanya program, pada waktu pelaksanaan dan sesudah program. Sebelum ada kegiatan program di LKB, masyarakat terutama para PS masih belum terbentuk solidaritas membuat sebuah wadah bersama untuk berbagi pengalaman, bertukar informasi dan yang lebih penting adalah terjalinnya kerukunan antar PS dilokalisasi. Padahal wadah ini sangat efektif untuk saling memahami antar PS sendiri atau dengan pihak terkait di luar LKB. “ Lha nyapo ndadak kumpulan barang, tahunya kita kerja di sini …” ungkap salah seorang PS. Dengan belum terbentuknya wadah bagi PS akan kesulitan untuk berbagi ilmu dan pengetahuan terkait dengan kesehatan reproduksi sesuai dengan program untuk LKB “Penguatan Hak-Hak Seksual Reproduksi bagi Perempuan Pekerja Seks di Lokalisasi Kedung Banteng”. Kesehatan reproduksi penting bagi perempuan khususnya PS karena terkait dengan aktifitas kerja mereka yang rentan dengan berbagai jenis penyakit menular seksual (PMS), infeksi menular seksual (IMS), HIV dan AIDS. Berbagai penyakit tersebut perlu diketahui penyebab, cara penularan, gejala sakitnya, serta pencegahan dan pengobatannya. Sehingga penyebaran penyakit tersebut bisa diminimalisir jumlahnya. Dalam pelaksanaan program, ada beberapa kegiatan yang dilakukan bersama-sama warga LKB, antara lain pertama melakukan pengorganisasian PS dengan menggunakan metode orang ke orang , ngrumpi, ngobrol – ngobrol antara CO / petugas lapangan dengan mbak – mbak PS yang rutin di lakukan 3 kali dalam seminggu. Kedua, rembug warga yang melibatkan mucikari, pengurus LKB dan PS dilaksanakan sebulan sekali. Ketiga, kampanye hak-hak perempuan dan hak reproduksi perempuan melalui iklan layanan masyarakat (ILM) serta Talk Show bersama dengan stake holder terkait dan PS di 2 radio CAHAYA FM dan DELTA FM Ponorogo. Ke empat, pertemuan dengan dinas kesehatan bersama masyarakat LKB, selain itu yang kelima adalah kegiatan pelatihan kesehatan reproduksi bagi PS. Sebagai tindak lanjut dari hasil pelatihan para kader berkumpul untuk membahas tentang adanya kebutuhan belajar bersama masalah kespro. Hasil dari rembukan tersebut pada bulan April 2009 terbentuklah kelompok belajar bagi para PS yang diberi nama Wisma Perempuan (WP), karena wisma perempuan terbagi menjadi 8 kelompok maka masing-masing kelompok diberi nama WP 1 sampai WP 8. Dengan terbentuknya kelompok WP ini menjadi langkah kecil tapi sangat penting sebagai upaya penanggulangan PMS, IMS, HIV dan AIDS di Indonesia. Karena dari sinilah semua informasi, pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan reproduksi dan berbagai macam Penyakit menular seksual dll bisa di pelajari dan disebarkan pada yang lain, jadi tidak hanya untuk PS saja tapi juga untuk mucikari dan pelanggan. |