|
REKAM JEJAK PERJALANAN KELOMPOK BELAJAR BERSAMA WARGA LKB |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 04 August 2010 14:06 |
|
( Madiun - ) Dalam rentang pelaksanaan program DIFAA selama 2 tahun di Lokalisasi Kedung Banteng ( LKB ) – Ponorogo telah membawa sedikit perubahan bagi warga LKB. Perubahan ini tentu saja bukan hanya semata peran DIFAA tetapi juga peran aktif masyarakat LKB sendiri. Perubahan itu dapat diketahui dengan membandingkan kondisi sebelum adanya program, pada waktu pelaksanaan dan sesudah program. Sebelum ada kegiatan program di LKB, masyarakat terutama para PS masih belum terbentuk solidaritas membuat sebuah wadah bersama untuk berbagi pengalaman, bertukar informasi dan yang lebih penting adalah terjalinnya kerukunan antar PS dilokalisasi. Padahal wadah ini sangat efektif untuk saling memahami antar PS sendiri atau dengan pihak terkait di luar LKB. “ Lha nyapo ndadak kumpulan barang, tahunya kita kerja di sini …” ungkap salah seorang PS. Dengan belum terbentuknya wadah bagi PS akan kesulitan untuk berbagi ilmu dan pengetahuan terkait dengan kesehatan reproduksi sesuai dengan program untuk LKB “Penguatan Hak-Hak Seksual Reproduksi bagi Perempuan Pekerja Seks di Lokalisasi Kedung Banteng”. Kesehatan reproduksi penting bagi perempuan khususnya PS karena terkait dengan aktifitas kerja mereka yang rentan dengan berbagai jenis penyakit menular seksual (PMS), infeksi menular seksual (IMS), HIV dan AIDS. Berbagai penyakit tersebut perlu diketahui penyebab, cara penularan, gejala sakitnya, serta pencegahan dan pengobatannya. Sehingga penyebaran penyakit tersebut bisa diminimalisir jumlahnya. Dalam pelaksanaan program, ada beberapa kegiatan yang dilakukan bersama-sama warga LKB, antara lain pertama melakukan pengorganisasian PS dengan menggunakan metode orang ke orang , ngrumpi, ngobrol – ngobrol antara CO / petugas lapangan dengan mbak – mbak PS yang rutin di lakukan 3 kali dalam seminggu. Kedua, rembug warga yang melibatkan mucikari, pengurus LKB dan PS dilaksanakan sebulan sekali. Ketiga, kampanye hak-hak perempuan dan hak reproduksi perempuan melalui iklan layanan masyarakat (ILM) serta Talk Show bersama dengan stake holder terkait dan PS di 2 radio CAHAYA FM dan DELTA FM Ponorogo. Ke empat, pertemuan dengan dinas kesehatan bersama masyarakat LKB, selain itu yang kelima adalah kegiatan pelatihan kesehatan reproduksi bagi PS. Sebagai tindak lanjut dari hasil pelatihan para kader berkumpul untuk membahas tentang adanya kebutuhan belajar bersama masalah kespro. Hasil dari rembukan tersebut pada bulan April 2009 terbentuklah kelompok belajar bagi para PS yang diberi nama Wisma Perempuan (WP), karena wisma perempuan terbagi menjadi 8 kelompok maka masing-masing kelompok diberi nama WP 1 sampai WP 8. Dengan terbentuknya kelompok WP ini menjadi langkah kecil tapi sangat penting sebagai upaya penanggulangan PMS, IMS, HIV dan AIDS di Indonesia. Karena dari sinilah semua informasi, pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan reproduksi dan berbagai macam Penyakit menular seksual dll bisa di pelajari dan disebarkan pada yang lain, jadi tidak hanya untuk PS saja tapi juga untuk mucikari dan pelanggan. |
|
Last Updated on Tuesday, 10 August 2010 19:53 |
|
Read more...
|
|
Pentingnya Kondom bagi Kesehatan Reproduksi Pekerja Seks |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 04 August 2010 13:45 |
|
( Madiun – DIFAA ) Wisma Perempuan ( WP ) Lokasisasi Kedung Banteng Ponorogo sebagai organisasi perempuan telah menjadi alternative tempat belajar dan pertukaran ilmu bagi PS semakin bergeliat geraknya. Masalah kesehatan reproduksi yang menjadi materi utama belajar tiap pertemuan mulai di kupas untuk di ketahui, di hindari penyebaran dan bagaimana penyembuhan berbagai persoalan kesehatan reproduksi. Kondom menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan reproduksi dari kemungkinan berbagai IMS, PMS serta HIV dan AIDS. Kondom umumnya terbuat dari karet / lateks yang di dalamnya ada spermisite (bahan kondom yang berfungsi membunuh kuman / virus) , sebagian besar kuman bisa mati atau melemah dengan adanya bahan ini, tetapi bahan spermise ini justru akan larut bila kena air. Studi pada tahun 1992 menunjukkan, sekalipun kondom berpori, namun hanya 0,1 mikroliter cairan yang bisa lewat. Jumlah ini sama dengan 0,01 persen ejakulasi air mani yang bisa dipastikan bebas dari HIV karena jumlahnya yang terlalu kecil. Kondom juga tak mudah lepas, pecah, atau robek. Anggapan kondom bisa lepas, pecah, dan robek umumnya muncul karena terjadi kesalahan dalam proses pemakaian. Sebab, sebelum dipasarkan, kondom harus melalui uji laboratorium sesuai standar internasional. Siang itu bertempat di ruang pertemuan atau ” sekolahan ” suasana riuh rendah dengan tawa dan juga teriak kecil para PS. Ternyata pertemuan hari itu membahas kondom dengan alat peraga dildo alat kelamin pria. Beberapa PS juga terlihat tersipu – sipu malu. Komentar dari mereka langsung spontan keluar, sehingga materi diskusi kondom mulai mengalir. ”Piye mbak besar e, yen iki kegeden opo kecilikken”, ujar Yogi, fasilitator DIFAA memancing diskusi. Para PS sepontan menjawap ” Marem mbak”, ” Lha ki Mbak luweh marem nek di ngoni kondom yo ben aman, tur biso dibaleni maneh, yo to”, ujar Yogi Salah satu PS langsung jawab ” Yo sip”, Kontan semua peserta pertemuan tertawa. |
|
Read more...
|
|
Gerakan Perubahan di wisma Perempuan LKB Ponorogo |
|
|
Benarkah demokrasi di Indonesia semakin membaik, paska reformasi 1998? Maraknya peraturan atau kebijakan yang diskriminatif terhadap perempuan seperti Perda Syariah, Perda yang melarang perempuan keluar malam dan aturan lainnya yang mayoritas selalu berdampak pada diskriminasi pada perempuan cukup memprihatinkan. Semuanya atas nama pembenaran suatu interpretasi agama tertentu, alasan moral dan akhlak, namun kenyataannya melupakan standar atau prinsip utama yang sudah ditetapkan dalam berbagai ketentuan HAM, UU Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, bahkan UUD 1945. ........Selanjutnya |
|
Refleksi 80 Tahun Gerakan Perempuan di Indonesia |
|
Karena yang lazim di dunia ini adalah perubahan, maka ‘nasib’ perempuan pasti terus berubah pula dari waktu ke waktu. Kini perempuan semakin dihargai karena prestasi dan kinerjanya. Di Indonesia, perubahan itu dirasakan pula oleh kaum perempuan. Akan tetapi penghargaan atas peran perempuan dan dunia yang berprespektif perempuan itu masih harus terus diperjuangkan. Dirasakan banyak kebijakan yang berprespektif perempuan tetapi masih mandul pada tingkat implementasi. Berikut petikan wawancara dengan Neng Dara Affiah, salah seorang komisioner Komnas Perempuan. Wawancara ini dilakukan oleh Iip D. Yahya dan diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat ….. Selanjutnya ….. |
|