Universal Declaration of Human Rights 1948
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights 1966
International Covenant on Civil and Political Rights 1966
Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights
Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women

| Kelompok Belajar Bersama Sebagai Upaya Pemenuhan Hak – Hak Anak di LKB |
|
Pendidikan anak – anak di LKB Persoalan anak lain adalah anak – anak dari kelompok marginal seperti anak – anak di lokalisasi dan anak – anak jalanan, mereka lebih komplek lagi persoalannya. Hak – hak anak tidak terpenuhi dengan baik karena kondisi lingkungan dan pekerjaan prostitusi yang dianggap sebagai pekerjaan yang kurang layak. Hak anak yang kurang terpenuhi di lokalisasi adalah pendidikan dan kesehatan.Untuk pendidikan untuk tingkatan SD anak – anak itu mendapatkan di lingkungan desa, tidak begitu jauh dengan lokalisasi. Untuk SMP berada di ibukota kecamatan yang relative jauh dari lokalisasi begitu juga untuk tingkatan SMA. Pendidikan anak – anak tentu saja tidak bisa di dapatkan dari sekolah formal saja tetapi tingkat belajar di rumah juga di perhatikan. Untuk belajar di rumah anak – anak relative kesulitan konsentrasi karena lingkungan yang ramai, gaduh dan tempat belajar juga tidak selalu terpisah dengan aktifitas orang dewasa. ” Piye mbak sinaue lha rame terus rumahku, aku yo gak mudeng meski membaca ....” ujar salah seorang anak mucikari Tekanan psikologis kadang menimpa anak – anak lokalisasi bila ketemu anak – anak daerah lain, karena sering di ejek dan cemooh dari daerah lokalisasi. Hal ini dapat menyebabkan minder atau tidak percaya diri, menutup diri dari pergaulan sebaya, atau malah sebaliknya anak jadi lebih hiperaktif. ” Anak – anak kurang memperhatikan bila di ajak ngobrol, kurang memperhatikan saat belajar bersama dan emosinya cepat berubah...” kata Yogi, pendamping belajar bersama anak – anak. Kesehatan Anak – anak di LKB Masalah kesehatan anak – anak lokalisasi perlu di perhatikan lebih terkait dengan tumbuh kembang anak – anak di masa depan. Kesehatan yang meliputi kesehatan fisik, psikologis, dan mental anak – anak menjadi satu kesatuan yang saling mempengaruhi. ” Menjaga kesehatan psikologis anak – anak lokalisasi di luar jam sekolah adalah penting di lakukan, pengucilan kepada mereka tidak membantu sama sekali tetapi pendampingan yang intensif sehingga bisa mempunyai alternatif pilihan kerja di luar prostitusi ”, Kata Ibu Evi lagi. Kesehatan reproduksi anak – anak juga perlu di perhatikan. Lingkungan orang dewasa dengan aktifitas seksual tinggi tentu sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku mereka. Karena pada dasarnya anak – anak adalah peniru yang baik, akan melihat, mendengar, mengamati dan melakukan apa yang dia rasakan dari lingkungan sekitar. ” Anak – anak dilingkungan prostitusi akan lebih cepat tumbuh dan tahu hal – hal seksual di banding anak di luar lokalisasi, makanya perlu pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini dengan bahasa yang mudah di pahami mereka, ...” kata Yogi, pendamping belajar bersama anak – anak. DIFAA yang disamping telah melakukan program PAR ( Participatory Actions Research ) bagi pekerja seks mulai tahun 2008 juga melakukan pendampingan bagi anak – anak di lokalisasi. Kegiatan pendampingan anak – anak dilakukan dengan membentuk kelompok belajar dan mempelajari bahasa inggris, menggambar dan bermain bersama. Bahasa inggris di perlukan anak – anak untuk mengasah kemampuan dan ketrampilan bahasa. Kemampuan bahasa ini dapat membantu anak untuk ekspresi diri kaitan dengan lingkungan. Kegiatan menggambar bisa melatih kognitif atau kecerdasan berpikir anak dalam penangkapan sebuah objek atau realitas. Kegiatan bermain bersama adalah sebuah cara untuk belajar dengan pendekatan bahasa yang mudah di pahami oleh anak. Untuk memasukkan pengetahuan dan nilai – nilai akan relative susah dengan pendekatan konvensional, karena anak cenderung pasif dan terbatas untuk mengekspresikan diri. Para Mucikari pun menyambut baik kegiatan belajar bersama bagi anak – anak, karena bisa nambah pengetahuan anaknya. Juga ada harapan nasib anak – anak lebih baik dari orang tuanya. ” Aku seneng mbak, jika anak – anak ada kegiatan tambahan, biar lebih pinter dari saya syukur malah bisa dapat kerja yang lebih baik dari saya ....” ujar salah seorang Mucikari. ” Kalo perlu di bantu mbak DIFAA untuk taman bacaan anak – anak ini, jadi mereka biar ada bahan belajar dan teralihkan dari kegiatan orang dewasa...., ” ujar salah seorang mucikari lainnya. Hak - hak akan pendidikan dan kesehatan, juga perlindungan dari tindakan kekerasan bagi anak – anak harus di penuhi tanpa memandang asal –asul dan latar belakang keluarga atau kelompok mereka. Bahwa tindakan kepedulian dan pendidikan kecil yang kita lakukan akan berperan besar bagi anak – anak pada khususnya dan masa depan bangsa ini. ( Ari difaa )
|