|
Menggalang Dukungan Dan Mencari Solusi Melalui Rembug Warga |
|
Kesehatan Reproduksi (kespro) yang menjadi kebutuhan mendesak sudah mulai dipelajari dan dinikmati manfaatnya bagi para PS dan Mucikari di LKB melalui kelompok Wisma Perempuan ( WP ). WP yang rutin melakukan pertemuan tiap minggunya dua kali banyak menarik minat dan keinginan belajar sebagian besar PS, akan tetapi ternyata belum semua PS yang mengikuti kegiatan tersebut. Untuk memaksimalkan kegiatan WP maka pada hari Senin tanggal 15 juni 2009 diadakan FGD atau Rembug Warga LKB. Malam itu di ruang pertemuan LKB (lokalisasi kedung banteng) Ponorogo terlihat ramai, banyak orang berkumpul untuk mengikuti rembug warga yang dilakukan setiap bulan oleh warga LKB dengan difasilitasi oleh DIFAA, tapi ada yang berbeda kali ini semua peserta dari unsur mucikari dan pengurus LKB. Tujuan untuk mempererat silaturahmi dan peneguhan kembali komitmen untuk bersama-sama mengupayakan agar pelayanan kesehatan lebih baik, acara yang dimulai pukul 19.00 malam itu dihadiri kurang lebih 25 mucikari dan pengurus LKB. Rembug warga kali ini membahas beberapa hal antara lain, yang terkait dengan kelompok perempuan yang diberi nama WP (wisma perempuan) dengan anggota para PS dan mengadakan pertemuan dua kali dalam seminggu ini membutuhkan dukungan dari mucikari, karena pertemuan WP membahas lebih detil tentang problematika kesehatan seksual reproduksinya, sehingga diharapkan ketika PS rutin mengikuti pertemuan ini akan memberikan wacana dan pengetahuan yang lebih rinci tentang kesehatan reproduksi, namun ini tidak akan terwujud jika tidak ada dukungan dari mucikari, karena masih berlakunya budaya sendiko dawuh antara PS dan mucikari, sehingga dukungan mucikari dengan mengingatkan dan memberikan waktu bagi PS untuk belajar bersama sangat penting dan akan membantu PS memahami tentang bagaimana menjaga kesehatan reproduksi, bagi kelompok ini kesehatan reproduksi menjadi penting karena prilaku seksual mereka yang beresiko tinggi terkena penyakit menular seksual, HIV dan AIDS, sehingga diperlukan pemahaman bersama antara PS dengan mucikari bahwa pertemuan ini akan memberi keuntungan kedua belah pihak, bagi PS mereka akan mendapatkan ilmu baru dan lebih bisa menjaga kesehatan reproduksi sehingga terhindar dari penyakit menular seksual dan bagi mucikari akan mendapatkan sumber daya manusia (PS) yang cerdas dan sehat sehingga income juga akan bertambah dan semakin lancar. |
|
Read more...
|
|
Gerakan Perubahan di wisma Perempuan LKB Ponorogo |
|
|
Bulan Mei selalu di warnai semangat perubahan bagi kita, mulai dari semangat perjuangan buruh, semangat untuk meraih pendidikan yang lebih baik, dan kebangkitan nasional ( termasuk kaum perempuan ). Semangat perubahan ini juga mulai merambah perempuan – perempuan di daerah Lokalisasi Kedung Banteng ( LKB ) , Ponorogo. Kesamaan nasib, pekerjaan dan kondisi mendorong para PS bertekad untuk bersama – sama untuk lebih baik lagi menjalani hari – hari di LKB. Pada hari senin, tanggal 23 April 2009 bertempat di gedung pertemuan (atau PS biasa menyebut dengan nama ”gedung sekolahan”), kelompok PS mengadakan pertemuan rutin dengan di fasilitasi DIFAA. Pertemuan ini membahas terkait tindak lanjut hasil konsultasi dengan DINKES yang terjadi pada 14 April 2009. Dari pertemuan ini di sepakati bahwa untuk transfer atau getok tular ilmu kesehatan reproduksi bagi semua PS di LKB dibentuk wadah kelompok belajar “ Wisma Perempuan”di singkat WP. WP di bagi dalam 8 kelompok kecil, 1 kelompok mewakili 2 – 3 wisma yang terdiri sekitar 12 sampai 15 orang. Kata WP ini didasari dari wisma adalah tempat yang menyatukan PS dari berbagai daerah untuk bekerja dan bersama dalam satu nasib. Perempuan berasal dari kata “empu”, pembuat keris yang bisa di artikan sebagai orang yang berperan penting untuk menjaga, memperindah dan memperkuat diri. Perempuan juga diartikan punya semangat yang tinggi untuk bertahan dalam menghadapi segala persoalan hidup. Dengan demikian WP diharapkan dapat menyatukan dan membentuk solidaritas PS untuk bersama – sama belajar meningkatkan dan memperkuat kemampuan diri PS sehingga PS tetap dapat berperan untuk diri, keluarga dan masyarakat. Dengan WP para PS telah mulai belajar materi tentang pemenuhan hak – hak kesehatan reproduksi bagi mereka. Yang pertama adalah hak untuk mendapatkan informasi dan pendidikan; hak atas informasi dan pendidikan yang berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan seseorang maupun keluarga. Hak ini penting karena dari informasi dan pendidikan PS dapat mengenal, memahami, dan menghargai hak seksual dan kespro mulai dari sendiri.Dengan demikian para PS bisa lebih menjaga kesehatan diri termasuk kesehatan reproduksinya. Yang kedua, hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan; termasuk hak atas informasi, keterjangkauan, pilihan, keamanan, kerahasiaan, harga diri, kenyamanan, kesinambungan pelayanan dan hak berpendapat. Bahwa pelayanan dan perlindungan kesehatan adalah termasuk hak dasar bagi semua warganegara, perlu di diperjuangkan untuk terpenuhi bagi kelompok yang selalu di anggap marginal oleh masyarakat seperti PS. |
|
Read more...
|
|
AWAS! Perda Diskriminatif |
|
Benarkah demokrasi di Indonesia semakin membaik, paska reformasi 1998? Maraknya peraturan atau kebijakan yang diskriminatif terhadap perempuan seperti Perda Syariah, Perda yang melarang perempuan keluar malam dan aturan lainnya yang mayoritas selalu berdampak pada diskriminasi pada perempuan cukup memprihatinkan. Semuanya atas nama pembenaran suatu interpretasi agama tertentu, alasan moral dan akhlak, namun kenyataannya melupakan standar atau prinsip utama yang sudah ditetapkan dalam berbagai ketentuan HAM, UU Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan, bahkan UUD 1945. ........Selanjutnya |
|
|
Refleksi 80 Tahun Gerakan Perempuan di Indonesia |
|
Karena yang lazim di dunia ini adalah perubahan, maka ‘nasib’ perempuan pasti terus berubah pula dari waktu ke waktu. Kini perempuan semakin dihargai karena prestasi dan kinerjanya. Di Indonesia, perubahan itu dirasakan pula oleh kaum perempuan. Akan tetapi penghargaan atas peran perempuan dan dunia yang berprespektif perempuan itu masih harus terus diperjuangkan. Dirasakan banyak kebijakan yang berprespektif perempuan tetapi masih mandul pada tingkat implementasi. Berikut petikan wawancara dengan Neng Dara Affiah, salah seorang komisioner Komnas Perempuan. Wawancara ini dilakukan oleh Iip D. Yahya dan diterbitkan di Harian Pikiran Rakyat ….. Selanjutnya ….. |
|
Kelompok Belajar Bersama Sebagai Upaya Pemenuhan Hak – Hak Anak di LKB |
|
Anak adalah asset dan masa depan bangsa yang harus di jaga, di rawat dan di penuhi hak – hak nya. Berbagai factor yang mempengaruhi perkembangan anak harus di perhatikan demi terbentuknya anak sebagai generasi penerus yang tangguh, kreatif dan mandiri.Masa depan masyarakat, bangsa dan negara terletak di tangan mereka. Masa anak- anak selalu identik dengan keceriaan, bermain , dan belajar, akan tetapi tidak semua anak melewati masa anak dengan hal tersebut. Sebagian anak justru mengalami persoalan yang berat di usia nya yang masih dini.Persoalan – persoalan anak yang terjadi tidak lepas dari dunia orang dewasa, yakni factor ekonomi, social dan budaya. Seperti di ungkapkan Ibu Evi Muafiah , M.Ag , seorang dosen Tarbiyah STAIN dan juga Pengurus Muslimat Ponorogo, Di kabupaten Ponorogo ada beberapa masalah anak yang terjadi, antara lain pertama , kekerasan ekonomi, banyak anak tidak bisa lanjut sekolah karena harus bantu ekonomi orang tua. Ketika di minta untuk menyekolahkan anak banyak orang tua yang enggan, "kanggo opo bu sekolah yang penting kan kerja ...”, Selain kesadaran pendidikan yang kurang dari orang tua karena faktor ekonomi, beberapa daerah terpencil di Ponorogo seperti kecamatan Sooko, jauhnya lokasi sekolah dan sulitnya transportasi menjadi kendala anak untuk sekolah. Anak – anak yang putus atau tidak lanjut sekolah ini kemudian memilih bekerja di toko – toko yang tersebar di kota Ponorogo. Masalah yang kedua, kekerasan seksual, kebanyakan incest anak dengan bapak atau anak dengan paman , bahkan sampai hamil baru ketahuan. ” Kekerasan seksual termasuk incest bisa di sebabkan faktor ekonomi, misalnya satu keluarga tidur dalam satu ruangan juga karena anak adalah pihak yang lemah dalam melindungi diri. Tetapi untuk anak – anak buruh migran, mereka hanya di penuhi ekonomi / uang tetapi perkembangan psikologis dan seksual kurang ada yang mengarahkan ...apalagi rasa ingin tahu tentang seksual tinggi ...”kata Ibu Evi. |
|
Read more...
|
|
|